وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
“Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya”

(QS. al-Ikhlas [112]: 4)
Studi Kebahasaan

Kufuw pada asalnya adalah kufw, sama-sama berarti setara, sebanding, sepasang, yakni kesamaan dua sesuatu (Mu’jam Maqayis Al-Lughah, jld. 5, hlm. 189). Kata ini digunakan mengenai dua hal yang sama dalam kedudukan dan nilainya (Mufradat Alfazd al-Qur’an, hlm. 718).
Ayat di atas diterjemahkan secara agak bebas. Namun secara harfiah, ayat ini berbunyi demikian, “Dan tidak ada bagi-Nya yang setara satu pun”. Dalam harfiah ayat ini terdapat kata yang ditempatkan lebih dahulu: (a) kufuw (yang setara) yang merupakan predikat untuk ahad (satu) sebagai nomina kata kerja penghubung kana (terdapat); (b) lahu (bagi-Nya) yang merupakan partikel bagi kufuw. Dalam kondisi lazim, ayat ini umumnya berstruktur demikian, “wa lam yakun ahadun kufuwan lahu”, dan terjemahan ayat di atas mengikuti struktur yang lazim ini. Zamakhsyari, penulis tafsir al-Kasysyaf, mengatakan bahwa ayat dengan struktur di atas merupakan model keindahan tertinggi dalam bahasa Arab; dalam struktur ini justru terdapat penekanan khusus pada partikel lahu yang menunjuk pada Allah sebagai fokus keseluruhan surah al-Ikhlas. Seolah-olah ayat ini juga menyatakan bahwa Allah Dialah yang tidak disetarai oleh apa pun.

Hadis

Fatah bin Yazid al-Jurjani meriwayatkan, “Dalam perjalanan dari Mekkah ke Khurasan, aku berbincang-bincang dengan Imam Ali al-Ridha. Di antaranya, ia mengatakan, “Pencipta tidak tergambarkan kecuali dengan apa yang ia gambarkan diri-Nya sendiri. Bagaimana akan tergambar Dia yang semua indra lemah mengetahui-Nya, akal [lemah] menjangkau-Nya, lintasan hati [lemah] membatasinya, dan mata-mata [lemah] meliput-Nya. Mahatinggi Dia dari apa yang disifati oleh para penyifat, mahaluhur Dia dari yang diungkapkan oleh para pengungkap. Dia jauh dalam kedekatan-Nya dan Dia dekat dalam kejauhan-Nya. Maka, dalam kejauhan-Nya, dia dekat, dan dalam kedekatan-Nya, Dia jauh. Dia membagaimanakan “bagaimana” sehingga tidak bisa dikatakan bagaimana tentang-Nya. Dia mendimanakan “di mana” sehingga tidak bisa dikatakan di manakah tentang-Nya. Dialah pencipta-awal kebagaimanaan dan kedi-manaan. Hai fatah! Setiap benda itu diasupi makanan kecuali Pencipta Pemberi rezeki. Sesungguhnya dia membendakan beda-benda, dan Dia sendiri bukanlah benda, bukan pula bentuk. Dia tidak terbagi-bagi, tidak terbatas, tidak bertambah, tidak berkurang. Dia bebas-murni dari esensi yang tersusun dalam esensi yang membendakannya. Dialah Mahalembut, Mahatahu, Maha Mendengar, Maha Melihat, Satu dan Tunggal, dan tempat bergantung. Dia tidak melahirkan juga Dia tidak dilahirkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya. Dialah pencipta segala sesuatu, pembenda segala benda, membentuk segala bentuk. Seandainya Dia sebagaimana yang diyakini orang-orang musyabbihah (menyama-rupakan Tuhan dengan makhluk), niscaya Pencipta tidak dikenal [beda] dari makhluk, Pemberi rezeki dari yang diberi rezeki, pencipta-awal dari yang tercipta. Akan tetapi, Dia adalah pencipta. Sungguh yang membendakannya, membentuknya dan mensesuatukannya berbedalah dengannya, karena tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan-Nya (Al-Tawhid, hlm. 61)
Imam Ja’far al-Shadiq ditanya tentang tauhid. Ia mengatakan, “Setiap orang yang membayangkan Allah dengan bentuk dalam-pikiran, ia telah muysrik. Setiap orang yang mengira telah mengenal Allah dengan nama tanpa makna, dia telah musyrik. Setiap orang yang mengira telah mengenal Allah dengan nama tanpa makna, ia telah mengakui kekososongan kata-katanya, karena nama adalah sesuatu yang baru (sebelumnya tidak ada barulah menjadi ada). Setiap orang yang mengira telah menyembah nama sekaligus makna, ia telah menempatkan sekutu bagi Allah. Setiap orang yang mengira telah menyembah makna dengan penjelasan dalam-pikiran, bukan dengan pengetahuan, ia seperti mencari Allah yang tiada ada. Barangsiapa yang mengira telah menyembah sifat sekaligus penyandangnya, ia telah mengingkari tauhid, karena sifat bukanlah penyandang. Barangsiapa yang mengira telah mengenal penyandang yang dikaitkan dengan sifat, ia telah membesarkan sesuatu yang kecil. Mereka semua ini sesungguhnya belum mengenal Allah sebagaimana mestinya.” Lalu ia ditanya, “Jika demikian, bagaimana bertauhid?” Ia menjawab, “Jalan menelaah tetap terbuka, dan jalan keluar dari masalah ini juga terbuka, yaitu mengenal diri yang tampak dan hadir sebelum sifat-Nya, dan mengenal diri yang gaib itulah yang mendahului diri-Nya sendiri” (Tuhaf al-‘Uqul, hlm. 326-328).
Perkataan ini berarti bahwa pengetahuan langsung seseorang yang berada dalam kehadiran Allah pastilah lebih dahulu daripada pengetahuannya tentang Allah melalui pengetahuan konseptual. Namun, realitas yang gaib dan tak terlihat oleh manusia, tentyu lebih dahulu, yakni pertama-tama mengenalnya melalui pemahaman pikiran tentang-Nya, dan dengan pengetahuan dan pemahaman ini ia mengenal Allah. Akan tetapi, Allah tampak dan hadir di mana saja sehingga pengetahuan tentang-Nya tidak dimulai dari pemahaman pikiran.  Bersambung⇒
Sumber : tafsir-quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s