لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُولَدْ
“Dia tidak melahirkan juga Dia tidak dilahirkan”

(QS. Al-Ikhlas [112]: 3)

Hadis

  • Diriwayatkan oleh Ammar bin Jaham dari Abdullah bin Hayy bahwa ia pernah mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thali ra. berkata, “Barangsiapa membaca surah al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali setelah shalat Subuh, maka pada hari itu ia tidak akan dibuntuti dosa sekalipun setan telah berusaha sehabis-habisnya” (Tsawāb al-A’māl wa Iqāb al-A’māl, hlm. 129).
  • Dalam pidatonya di kota Kufah, Imam Ali ra. mengatakan, “Dia Yang Mahasuci tidak dilahirkan sehingga ada yang menyamai-Nya dalam kehebatan, Dia juga tidak melahirkan sehingga Dia menjadi pemilik ahli waris dan penghancur, Dia tidak didahului waktu dan tempo apa pun, demikian tambahan juga kekurangan tidak menyentuhnya” (Nahj al-Balāghah, pidato no. 182).
  • Imam Ja’far al-Shadiq ra. menyampaikan hadis dari ayahnya, Imam Muhammad al-Baqir ra. bahwa warga Bashrah menulis surat kepada Imam Husain untuk menanyakan makna al-shamad. Maka ia membalas surat kepada mereka, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. ‘Amma ba’du. Janganlah kalian salah menyelami al-Quran, janganlah berdebat tentangnya, jangan pula berbincang tentangnya tanpa pengetahuan. Sungguh aku telah mendengar datunya, Rasulullah saw., bersabda, ‘Barangsiapa berbicara tentang al-Quran tanpa pengetahuan, maka persiapkanlah tempatnya di neraka.’ Dan sesungguhnya Allah swt. telah menafsirkan al-shamad dan Dia berfirman, “Allah satu, Allah tempat bergantung.” Kemudian Dia menafsirkannya dan berfirman, “Dia tidak melahirkan juga Dia tidak dilahirkan. Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.” “Dia tidak melahirkan” yaitu tidak ada yang keluar dari-Nya sesuatu yang kasar apa pun seperti anak dan hal-hal kasar lainnya yang keluar dari makhluk-makhluk, juga tidak sesuatu yang halus apa pun seperti jiwa, juga tidak berasal dari-Nya keadaan-keadaan seperti kantuk, tidur, pikiran, sumpek, sedih, bahagia, tawa, tangis, takut, harap dan puas, kecewa, lapar dan kenyang; Allah mahasuci dari keadaan dimana ada keluar dari-Nya dan sesuatu yang kasar dan yang halus terlahir dari-Nya. “Juga Dia tidak dilahirkan” yakni Dia tidak terlahirkan dari sesuatu apa pun, dan Dia tidak keluar dari sesuatu apa pun sebagaimana keluarnya hal-hal kasar dari anasirnya seperti sesuatu dari sesuatu, hewan dari hewan, tumbuhan dari tanah, air dari sumber, dan buah dari pohon. Dia juga tidak seperti keluarnya hal-hal halus dari pusatnya seperti penglihatan dari mata, pendengaran dari telinga, penciuman dari hidung, pencicipan dari mulut, perkataan dari lidah, pengetahuan dan pemilahan dari hati, dan api dari batu. Tidak demikian. Tetapi Dialah Allah tempat bergantung yang tidak sesuatu apa pun, tidak dalam sesuatu apa pun, juga tidak di atas sesuatu apa pun. Dia pencipta-baru segala sesuatu dan pencipta mereka semua, pewujud segala sesuatu dengan kuasa-Nya. Segala yang diciptakan-Nya akan musnah karena kemusnahan dengan ingin-Nya, dan akan tetap ada apa yang telah diciptakan-Nya karena ketetap-adaan dengan pengetahuan-Nya. Maka, itulah Allah tempat bergantung yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan—Mahatahu yang-gaib dan yang-tampak, juga mahabesar dan mahatinggi—dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya” (al-Shaduq, Kitāb al-Tawhīd, hlm. 91). 

Bersambung⇒
Sumber : tafsir hikmaj

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s